Thursday, March 29, 2007

MY CURRICULUM VITAE

dear all,
really, i feel just enough to put my CV in the profile..but that's no have many space there..so, i put my completely CV here..
if you need it, read by free:

SPN* Ir. Fakhrunnas MA Jabbar dilahirkan di Desa Tanjung Barulak, Kampar, Riau pada 18 Januari 1959. Mulai menulis sejak di bangku SMP di Bengkalis. Menamatkan Jurusan Manajemen Sumberdaya Perairan Fakultas Perikanan, Universitas Riau (UNRI) Pekanbaru tahun 1985. Menjadi dosen di Universitas Islam Riau (UIR) sejak 1986. Tulisannya berupa artikel, esai, cerpen dan puisi telah dimuat di sejumlah media nasional dan local seperti Horison, Kompas, Republika, Media Indonesia, Koran Tempo, Riau Pos, Kartini, Nova, Citra, Suara Pembaruan, Bisnis Indonesia, Seputar Indonesia, Gatra, Jurnal Nasional, dan sebagainya. Aktif dalam berbagai organisasi kesenian dan kebudayaan a.l. Komite Sastra Dewan Kesenian Riau (1994-96), Sekretaris Himpunan Seni Budaya Islam (HSBI- 1983-95), Sekretaris Lembaga Seni Budaya Pemuda KNPI Riau (1981-85), Sekretaris Komite Program Yayasan Puisi Nusantara (1980-84). Sejumlah buku telah diterbitkan antara lain,Di Bawah Matahari 1981) dan Matahari Malam, Matahari Siang (1982) - keduanya kumpulan puisi bersama penyair Husnu Abadi , Meditasi Sepasang Pipa (1987) –kumpulan puisi bersama penyair Wahyu Prasetya, Biografi Buya Zaini Kuni : Sebutir Mutiara di Lubuk Bendahara (1993), Autobiografi H. Soeman Hs: Bukan Pencuri Anak Perawan (1998) yang terpilih sebagai Buku Terbaik Anugerah Sagang tahun 1999. Kumpulan Puisi Airmata Barzanji (Adi Cita, Yogyakarta, 2005, Pengantar oleh D. Zawawi Imron), Kumpulan Cerpen Sebatang Ceri di Serambi (Akar Indonesia, Yogyakarta, 2005, Kata Pengantar oleh Dr. Maman S. Mahayana) – pernah dibahas oleh Pengamat Sastra Prof. Harry Aveling di Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Indonesia, 2006 serta terpilih sebagai 10 Nominator Khatulistiwa Literary Award 2006 dan terpilih sebagai Buku Pilihan Anugerah Sagang 2006 Katagori Buku Pilihan. Sejumlah puisinya diterjemahkan dan ikut dalam Antologi Puisi Indonesia-Portugal bersama 50 Penyair Indonesia lainnya. Kumpulan Puisi terbarunya, Tanah Airku Melayu diterbitkan oleh Balai Pengkajian dan Pengembangan Budaya Melayu, Yogyakarta kerjasama dengan Riaupulp. Buku ini diuluncurkan 29 Januari 2009 yang dibahas oleh Dr. Yusmar Yusuf. Selain itu, 6 buku cerita anak di mana tiga judul di antaranya termasuk buku Inpres yakni Anak-anak Suku Laut (Pustaka Utama Grafiti, 1994), Menembus Kabut (Depag RI, 1985), Menyingkap Rahasia di Bumi Harapan (1997). Sebuah cerpennya, Rumah Besar Tanpa Jendela dimuat dalam Buku Cerpen Horison Sastra Indonesia (Horison, 2001) dan diangkat ke sinetron oleh Chaerul Umam ditayangkan di LaTivi (2002). Sering memenangkan Sayembara Penulisan Sastra di antaranya Juara Pertama Penulisan Cerpen se-Indonesia (Bali Post, 1992), Juara Pertama Penulisan Cerpen se-Indonesia (UNS Surakarta, 1993), Juara Pertama Penulisan Puisi Lingkungan se-Indonesia (Sanggar Sastra Banjarmasin, 1987) dan Juara Pertama Penulisan Puisi tingkat Mahasiswa se-Indonesia pada Porseni tahun 1982) dan lain-lain. Sering pula memberikan ceramah sastra dan budaya dan membaca puisi di sejumlah kota seperti Kuala Lumpur, Singapura, Pekanbaru, Padang, Medan, Jambi, Lampung, Jakarta dan Bandung. Pernah diundang oleh Unesco Korea Selatan tahun 1999 bersama dua budayawan Indonesia dan Negara-negara ASEAN lainnya pada ’99 Cultural Exchange Programme ASEAN-Republic of Korea di Seoul dan Kyong Ju. Menghadiri dan membacakan puisi pada event sastra seperti Hari Sastra di Malaysia, Pertemuan Puisi Indonesia 1987, Malam Bosnia (1995), Malam Solidaritas Islam (1996), Gong Melayu 2001 (2001) dan Baca Sajak Tempuling Rida K. Liamsi (2003), Cakrawala Sastra Indonesia (2004) – semuanya di TIM Jakarta dan Kongres Cerpen Indonesia di Pekanbaru (2006). Terakhir, membacakan sajak-sajaknya di Laman Bujang Mat Syamsuddin, Bandar Serai, Dewan Kesenian Riau, Pekanbaru, Maret 2004, Baca Puisi 'Semalam di Riau' bersempena Lomba Baca Puisi Nasional Rida K. Limasi di TMII, jakarta (2008). Selain aktif berkesenian, dia juga menjalani profesi sebagai wartawan selama 20 tahun sejak 1979 dimulai dari LKBN Antara, Mingguan Genta, Majalah Topik, Panji Masyarakat, Prioritas, Media Indonesia dan Televisi Pendidikan Indonesia (TPI). Sering memenangkan Lomba Karya Jurnalistik di Riau. Hingga saat ini menjadi kolomnis tetap dengan rubrik 'Kopi Pagi' di Harian Riau Mandiri. Tahun 2007 lalu mendapat Anugerah Budayawan Terbaik dari Sanggar LDT- Universitas Islam Riau dan Anugerah *Seniman Pemangku Negeri (SPN) bidang Sastra dari Dewan Kesenian Riau (DKR) serta tahun 2008 terpilih sebagai Seniman/ Budayawan Pilihan Sagang dari Yayasan Sagang -sebuah anugerah di bidang kebudayaan yang prestisius di Riau. Saat ini bekerja pada PT Riau Andalan Pulp And Paper, perusahaan pulp dan kertas di Pangkalan Kerinci, Pelalawan Riau. ***

PENYAKIT MATI RASA

dear all,
when i read the newpaper and watching the TV that show us about mostly of the legislative member in Indonesian-wide make demonstration in President Place of Indonesia in Jakarta...they push our government to get them some allowance (out of salary)..while many people mut live in poor...
in my mind..they have loss their sensivity...
my writing about that case..

KOLOM

Fakhrunnas MA Jabbar



PENYAKIT ‘MATI RASA’



PENYAKIT apakah yang paling berbahaya di Indonesia saat ini? Jawabannya sudah bisa dipastikan berkisar penyakit flu burung dan HIV/AIDS. Pasalnya, wabah flu burung telah merenggut nyawa 62 orang dari hampir 100 kasus. Penderita HIV/ AIDS di Indonesia hingga akhir tahun 2006 lalu mencapai 11.000 lebih penderita dan ratusan orang lainnya sudah menjemput ajalnya. Dahsyat memang.

Persoalan yang melanda bangsa Indonesia tak sebatas penyakit endemik yang tersebar luas di tengah-tengah masyarakat yang terbilang penyakit medik. Tentu saja, selalu ada alternatif obat yang ditemukan melalui penelitian-penelitian ilmiah untuk mengatasi penyakit medik itu. Sebutlah penemuan Buah Merah yang konon dapat menghambat perkembangan inkubasi virus HIV atau CVO (Coconut Virgin Oil) yang berkhasiat tinggi untuk melumpuhkan banyak penyakit medik. Kita sedang menghadapi wabah penyakit sosial yang disebut penyakit ‘mati rasa’. Gejala-gejala klinis-sosialnya memperlihatkan rendahnya rasa empati, tenggang-rasa, kesetiakawanan atau suka menzalimi sesamanya.

Padahal, semua ajaran agama mengingatkan betapa penting makna sebuah persaudaraan. Bahkan dalam ajaran Islam ditegaskan melalui sebuah hadits :”Tidak sempurna iman seseorang kamu, sebelum ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai diri sendiri.” Banyak kisah menarik yang mengandung ajaran kebajikan jadi tamsil bagaimana arti sebuah tenggang rasa atau setia kawan sesama saudara atau tetangga. Muaranyanya tak lain munculnya rasa persatuan dan kesatuan serta rasa aman di suatu lingkungan sosial.

Di tengah rakyat didera derita panjang sejak bermulanya era Reformasi, wakil rakyat yang sudah diamanahkan memperjuangkan aspirasi rakyat yang beragam terutama urusan periuk-nasi sebagai basic need. Rakyat yang awam hanya memelukan adanya perubahan signifikan akan nasib mereka sehari-hari. Pepatah lama : ‘berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian’ yang mengisyaratkan kebahagiaan hanya dapat diraih dengan bersakit-sakit lebih dulu, sudah tak mempan lagi menyejukkan tabularasa rakyat. Sebab, memang rakyat kita memang sudah bersakit-sakit lama sekali tanpa perubahan yang berarti. Pergantian rezim dan sistem demokrasi, ternyata tak kunjung menyentuh perubahan nasib rakyat.

Di tengah-tengah kondisi semua harga barang-barang kebutuhan melambung tinggi dan terjadinya penurunan pendapatan rakyat karena nilai tukar rupiah yang terdepresiasi, barang-barang kebutuhan dasar rakyat justru sulit ditemukan di pasar. Beras yang sudah menjadi kebutuhan dasar semua rakyat ternyata harganya melambung karena Bulog tidak melakukan antisipasi dan poraktif. Belum lagi persoalan ketersediaan minyak tanah tiba-tiba hilang di pasaran mengakibatkan harganya melambung tinggi mencapai Rp. 12.000 per liter melebihi harga solar atau bensin. Pertanyaan yang muncul kemudian, di mana apa saja yang sudah dilakukan Pertamina atau BP Migas sebagai pemegang hak monopoli untuk urusan dasar tersebut? Keperihan rakyat terutama di ceruk-ceruk kampong bagai kehabisan gema ketika sampai di gedung-gedung wakil rakyat.

Dalam suasana seperti itulah, Pemerintahan SBY-JK menerbitkan PP 37/ 2006 tentang Kedudukan Protokoler dan Keuangan Pimpinan dan Anggota DPRD yang bermuara dengan polemik dan unjuk rasa rakyat dan kalangan professional serta LSM. PP yang identik dengan upaya memperkaya para wakil rakyat atau melegalkan korupsi itu akhirnya diputuskan Presiden SBY untuk dicabut. Padahal, hampir 80 persen para wakil rakyat di daerah-daerah –Provinsi dan Kabupaten- telah mencairkan rapel dana tersebut. Dipastikan, persoalan baru akan muncul karena pengembalian dana yang sudah dicairikan dan dipakai itu cukup besar pula. Untuk seorang anggota DPRD bisa memperoleh dana mencaai 60 jt dan unsur pimpinan mencapai Rp. 200 juta. Untunglah tenggat waktu pengembalian dana tersebut ditoleransi hingga Desember 2007.

Munculnya PP 37/ 2006 yang mengundang kontroversial publik itu memang menyisakan banyak pertanyaan. Apakah tidak dilakukan pengkajian dan analisis-analisis lebih dulu dengan mempertimbangkan unsur kepantasan di tengah negeri ini dilanda banyak persoalan. Bukankah pemberian tunjangan dalam jumlah besar untuk anggota legislatif ini lebih memberi kesan adanya ‘main mata’ kalangan eksekutif dan legislatif? Secara kasar, realitas itu mengesankan: ’sesama bis kota dilarang saling mendahului’? Kolaborasi kedua lembaga pemerintahan itu justru makin membuat praktik-praktik korupsi yang dilegalkan akan semakin banyak terjadi.

Di sisi lain, rakyat benar-benar kecewa ketika para wakil rakyat kurang bereaksi untuk mengkritisi PP 37/2006 yang terang-terangan melukai hati-nurani para konstituen-nya. Syukurlah, masih ada segelintir kalangan legislatif itu –sebagaimana ditunjukkan oleh Fraksi PKS- yang berketetapan hati akan menghimpun dana tunjangan mencapai Rp. 14 milyar yang akan disumbangkan untuk rakyat miskin. Sikap ini sangat simpatik dan terpuji sehingga akan mengurangi kekecewaan rakyat.

Kekhawatiran banyak orang, para wakil rakyat kita semakin kehilangan sensitivitas dan sikap kritis terhadap persoalan-persoalan yang dihadapi rakyat. Di sisi lain, sebagian besar di antara mereka justru memperlihatkan sikap lebih mmentingkan diri dan kelompok. Padahal, rakyat tidak buta dan tuli untuk memotret gerak-gerik mereka saat berkiprah di panggung politik yang dinamik. Kekhatiran banyak orang, janganlah wakil rakyat kita sampai mengidap penyakit ‘mati rasa’ atau tak punya sensitivitas lagi. Sebab, menyelesaikan persoalan-persoalan yang dihadapi negara dan bangsa terutama rakyat kecil amat membutuhkan keberpihakan sikap dan tindakan. Jangan biarkan rakyat kehilangan penghormatan atau apresiasi sementara keberadaan wakil rakyat sejak dulu memang amat dihormati dan dimuliakan.

Penyakit ‘mati rasa’ hanya dapat diobati dengan selalu ber-empati dengan sering memasuki hati rakyat yang terdalam. Nestapa rakyat mestinya harus dimaknai sebagai keperihan para wakil rakyat pula. Syukur-syukur, tak hanya sekadar merasakan tetapi berbuat suatu yang nyata sebagai keteladanan yang patut ditiru. ***





Fakhrunnas MA Jabbar adalah budayawan, peminat masalah sosial, kini tinggal di Pangkalan Kerinci, Riau.

PEJABAT TERAS DI HARI JUMAT

dear reader,
every friday, we always see many guys will come to the mosque for praying. any interesting view when many of them will come late while the space of the mosque have full. where do will sit at the mosque? yeah, the will sit at the terrace of the mosque. i call them as 'pejabat teras' (people at the terrace of the mosque)...
may be one of them inclue me too.. he he..this outo-criticsm...
let read it..

KOLOM

Fakhrunnas MA Jabbar



PEJABAT TERAS DI HARI JUMAT



HARI Jumat boleh digunakan untuk mengukur kadar ketunakan se sesorang dalam menjalankan ibadah di tengah public yakni sholat Jumat. Setidak—tidaknya saat pertamakali hadir di masjid. Dulu, para guru mengaji mengajarkan kita bahwa pahala bagi seorang yang paling pertama datang di masjid untuk menunaikan sholat Jumat akan mendapatkan pahala senilai berqurban seekor unta. Begitu pula untuk jamaah yang datang di urut nomor dua dan seterusnya akan memperoleh pahala senilai korban seekor sapi, lembu, ayam dan seterusnya. Namun, bagi yang datang di penggalan akhir, harus puas menerima senilai qurban sebutir telur ayam saja. Begitulah keadilan Allah dalam memberikan imbalan yang pantas dan obyektif dalam konteks ritual ubudiyah.

Dalam urusan ibadah, memang tak ada perlakuan istimewa pada seorang jamaah di mata Allah. Inna akrama kum, ‘indallahi atqakum (Yang paling mulia di sisi Allah adalah orang yang paling tinggi ketaqwaannya). Seseorang yang terlambat menempati shaf dalam sholat berjamaah, harus puas berdiri di bagian belakang yang masih kosong. Itulah sebabnya, seorang imam selalu berpesan sebelum memulai ibadah sholat agar para jamaah mengisi shaf terdepan lebih dulu.

Tapi, dalam realitas sehari-hari, kita masih sering menyaksikan bagaimana protokoler duniawi bercampur-aduk dengan urusan ukhrowi atau ubudiyah ini. Seorang pejabat publik yang ikut dalam ritual ubudiyah berjamaah ini selalu diberi tempat istimewa dalam barisan shaf terdepan, meski datang terlambat. Hal ini dilegalisir dengan pertimbangan semata urusan protokoler duniawi atau kewibawaan pejabat bersangkutan. Padahal, Rasulullah dan Khulafaur Rasyidin dulu yang juga terbilang sebagai pejabat public –setingkat Kepala Negara dan Pemerintahan- tidak memberlakukan protokoler serupa itu. Bahkan, mereka melepaskan hak privilege (istimewa)nya selaku orang nomor satu dalam urusan pemerintahan bila berhadapan dengan urusan syari’ah.

Ada hal yang menarikyang amat kontras dijumpai dalam setiap peristiwa sholat Jumat. Sebagian besar jamaah justru berebutan datang ke masjid dan mencari shaf justru pada detik-detik akhir menjelang dimulainya ibadah sholat Jumat. Akibat bagian dalam masjid tak memadai lagi menampung para jamaah sehingga bagian luar masjid-lah yang menjadi alternative satu-satunya. Syukurlah kebanyakan masjid sekarang sudah diperluas dengan membangun teras atau serambi baik terutama di kiri-kanan bangunan induk masjid.

Pertanyaan kita: siapakah mereka yang menempati shar luas masjid itu? Itulah kelompok yang boleh disebut ‘Pejabat Teras’ di hari Jumat. Maksudnya, orang-orang yang selalu menempati shaf di bagian teras masjid karena keterlambatan kehadirannya dalam ritual sholat Jumat. Tentu saja, semua orang punya alasan untuk datang terlambat karma terkait urusan-urusan duniawi baik di rumah tangga maupun di kantor. Alasan keterlambatan ini tentu hanya bisa diadili secara jernih dan obyektif oleh Allah bersama para malaikat yang ditugaskan mengawasi aktifitas manusia di dunia.

Padahal, semua kita sadar akan kewajiban untuk segera meninggalkan aktifitas duniawi agar mengutamakanl ibadah Jumat. Khatib Jumat selalu mengingatkan para jamaah, apabila waktu sholat Jumat tiba, hendaklah semua orang meninggalkan urusan duniawi dan bergegas ke masjid agar berkonsentrasi memperhambakan diri kepada Allah. Bahkan, semestinya semua urusan jual-beli (muamalah) dihentikan selama melaksanakan ibadah sholat Jumat tersebut. Jadi, sholat Jumat ini mestinya menjadi kebutuhan sebagaimana para sufi menjadikan ibadah sebagai kelengkapan hidupnya.

Tapi, secra individual, urusan beribadah memang berpulang kepada masing-masing orang untuk mengamalkannya. Sebab, bear kecil dosa yang dilakukan sudah menjadi tanggungjawab pribadi bagi orang yang sudah akil-baligh untuk memikulnya. Dan semua perbuatan dosa itu akan dimintai pertangungjawabannya di hari akhirat kelak.

Di masa kecil dulu, guru mengaji saya selalu bercerita tentang orang-orang yang berbuat baik dan berbuat jahat untuk menjelaskan batasan kebenaran dan kesalahan. Tujuan guru mengaji ini tak lain agar murid-muridnya faham dan kelak menjadi orang yang alim atau taat. Dikisahkan, tentang orang yang melalaikan sholat Jumat. Begini: sejumlah orang di sebuah kampung di zaman dahulu kala asyik mencari ikan di sungai pada hari Jumat. Mereka asyik menangkap ikan karena jumlahnya memang banyak dan berukuran besar-besar pula. Sayangnya, sampai saat adzan di masjid bergema, mereka terus saja menangkap ikan. Seolah-olah tak peduli saja. Beberapa orang alim yang lewat di dekat sungai itu, menyerukan agar mereka segera meninggalkan usaha dan menunaikan sholat Jumat. Tapi, justru mereka bukannya patuh dan sadar melainkan memperolok-olokkan para orang alim yang lewat. Layaknya seekor monyet memperagakan kegembiraan begitu mendapatkan ikan-ikan besar sambil tertawa-tawa ceikikan. Panggilan kebenaran ternyata mereka sambut dengan olok-olok dan meremehkan.

Sewaktu para jamaah pulang Jumat, mereka terkejut saat melewati sungai tadi. Puluhan monyet sedang berpesta sambil tertawa-tawa dengan memperagakan sikap berlebihan karena mendapatkan ikan yang banyak. Seperti bisa diduga, menurut guru mengaji dulu, ternyata orang-orang yang tidak melaksanakan sholat Jumat itu, atas kehendak Allah telah berubah menjadi monyet-monyet besar.

Begitulah ajaran kebajikan yang bijak selalu muncul di sepanjang masa. Adakalanya ajaran itu turun dari langit atau gunung. Bahkan tak jarang pula tamsil-tamsil bijak itu mencuat dari dasar laut atau lembah yang dalam. Allah pun telah membentangkan kehidupan dunia ini untuk seua orang mencari rezeki bagi kelangsungan hidup diri dan anak-istri atau keturunannya. Sebagaimana sebuah hadits Rasulullah : “Kejarlah duniamu, seolah-olah kamu akan hidup untuk selamanya. Tapi kejar pula akhiratmu seolah-olah kamu akan mati esok hari.”

Ibadah sholat lima waktu dan sholat Jumat pada hakikatnya hanya menguras beberapa menit saja disbanding waktu 24 jam yang tersedia dalam sehari. Benar kata Bimbo : “sholat itu laksana interupsi belaka”. Tidak akan menyita banyak waktu. ***

MUNDUR

Dear All,
Mundur (retreat, resign) from the position is a gentlement attitude as a best responsibility. But, there are many our executive in bereucration have no this. Many subordinates depend their responsibility to their superordinate.. A minister in our country will never retreat or resign from his position although has many mistakes..Let see our Transportation Minister, Hatta Radjasa.. Many crashes related land, air and ater transprtation..but he feel free in his position..The great poet of Indonesia, Taufik Ismail have ever wiritten a nice poem that tittle : (Malu) Aku Jadi Orang Indonesia..(To be ashame become an Indonesian People)..
This is my opinion about the phenomenon..

Tradisi Mundur dari Jabatan

ADA anekdot soal naik kendaraan di Indonesia. Di masa Orde Baru dulu, katanya, perseneling mobil yang jarang digunakan saat berkendaraan adalah mundur. Apalagi kalau mobil tersebut dikendarai oleh para pimpinan kantor, pejabat publik atau organisasi. Sebab, kata-kata ‘mundur’ menjadi sesuatu yang ditabukan karena selalu dianggap identik dengan pertahanan sikap akan jabatan yang dipegangnya. Itulah sebabnya, nyaris sepanjang perjalanan birokrasi di negeri ini, sangat langka kita dengar ada pejabat publik yang mundur sebagai konsekuensi kelalaian tugas yang diembannya.
Akibatnya, meski sudah melakukan banyak kesalahan di mata publik, tradisi mundur itu benar-benar dikekalkan.Padahal, negeri Jepang yang sama-sama berasal dari bangsa Timur terus saja menyuburkan tradisi mundur sebagai konsekuensi tidak bisa memenuhi tanggungjawab tugas publik sebagaimana diharapkan masyarakat. Sering terjadi, Menteri Transportasi atau Perhubungan langsung mundur ketika terjadi kecelakaan pesawat terbang atau kereta api. Orang boleh saja bedalih kalau tradisi mundur di negeri Sakura itu terkait nilai-nilai budaya ‘harakiri’ (bunuh diri karena tak kuat menahan rasa malu) yang sudah berlangsung turun-temurun.
Boleh jadi, tradisi mundur dalam birokrasi Indonesia masih saja ‘diharamkan’. Sebutlah tragedi kecelakaan transportasi yang terjadi berulang-ulang, disikapi oleh pejabat public dan masyarakat secara berbeda. Cobalah runut sejumlah musibah terkait kasus kecelakaan transportasi sejak dulu hingga kini di antaranya kecelakaan laut berupa tenggelamnya Tampomas II, KM Levina dan masih banyak lagi. Kecelakaan udara bak silih berganti yang menewaskan ribuan jiwa seperti kecelakaan pesawat Garuda di Sibolangit (Sumut), Mandala di Polonia, Lion Air di Semarang, Adam Air yang ‘menghilang’ di dasar laut, kawasan Kalimantan, patahnya tubuh pesawat Adam Air dan terakhir terbakarnya pesawat Garuda Indonesia di Lanud Adi Sutjipto, Yogyakarta. Kecelakaan darat pun nyaris terjadi tiap bulan seperti tragedi KA Bintaro yang menghebohkan, anjloknya sejumlah kereta api di lintas Pulau Jawa. Ditambah pula tabrakan bus dan mobil kecil yang menghiasi halaman suratkabar dan layar kaca.
Jangan-jangan, Indonesia bakal tercatat di dalam Guinnes Book Record sebagai negara yang paling banyak kasus kecelakaan transportasinya. Kasus-kasus kecelakaan transportasi ini tenyata tak menggugah perasaan Menteri Perhubungan –dari masa ke masa- untuk mengundurkan diri. Semangat lagu ‘Maju Tak Gentar’ benar-benar telah mengilhami pejabat public kita terkait untuk tetap bertahan di jabatannya. Apa yang diucapkan Menteri Perhubungan, Hatta Radjasa, menyikapi tuntutan mundur dari berbagai pemangku kepentingan di negeri ini bahwa ‘saya akan mundur apabila dikehendaki oleh Presiden.’ Alasan-alasan semacam ini sudah menjadi kalimat baku bagi para menteri yang duduk dalam jajaran kabinet Indonesia sejak dulu.
Tidak punya sensitifitaskah Hatta Radjasa akan tuntutan publik yang merasa kecewa dengan kinerja Departemen Perhubungan? Tidak juga. Pasalnya, Radjasa justru menyikapi banyaknya kasus kecelakaan transportasi ini dengan melakukan restrukturisasi atau mengganti sejumlah Dirjen atau Direktur terkait. Padahal, bila seorang menteri merasakan terlalu banyak titik lemah para pembantu-pembantu dekatnya, bukankah sebenarnya hal itu bermakna kegagalan atas pembinaan yang dilakukannya sebagai pimpinan departemen.
Tradisi mundur dari jabatan di Indonesia apabila dipandang gagal oleh publik dalam mengurus manajemen tugas dan tanggungjawab sangat jarang dilakukan para pejabat publik kita. Alasannya, tidak mundur dari jabatan saat institusi yang dipimpinnya sedang bermasalah dipandang sebagai sikap kesatria dan bertanggungjawab. Mundur dapat diartikan sebagai ‘lari’ dari tanggungjawab. Sebaliknya, di sejumlah negara lain seperti Jepang dan negara-negara Barat, kegagalan dalam mengurus tugas dan tanggungjawab dipandang sebagai aib. Apalagi bila kesalahan itu terjadi berulang-ulang.
Syukurlah, Wapres Jusuf Kalla sempat berbasa-basi di depan para pengusaha asing belum lama ini dengan mengatakan ‘sangat malu’ atas tragedi dunia transportasi di Indonesia. Tapi itu pun hanya sebatas retorika belaka. Tak ada teguran atau sapaan bagi Menteri Perhubungan sepenuhnya bertanggungjawab dalam urusan transportasi itu.
Berulang-ulangnya kasus kecelakaan transportasi di tanah air memang mengundang tanda tanya dan renungan panjang bagi setiap manusia Indonesia. Kenapa harus Indonesia? Sementara penggunaan jasa transportasi di semua negara dunia justru semakin intensif. Sarana angkutan udara, darat dan laut pun sama-sama dipergunakan sesuai standar. Tapi, kenapa kasus kecelakaan di negara-negara lain tidak separah di Indonesia. Tanya kenapa?
Mengelola bidang transportasi tak terlepas dari kemampuan manajerial yang dikombinasikan dengan skill, knowledge dan kompetensi. Tuntutan seperti ini sudah dinukilkan dalam sebuah ajaran Islam bahwa ‘serahkanlah sesuatu pekerjaan pada yang ahlinya. Apabila tidak, tunggulah saat kehancurannya.” Dalam konteks ini, menjadi Menteri Perhubungan tentulah tak terlepas dari aspek manajemen dan teknis yang terkait dengan bidang yang dikelolanya.
Pemerintahan kita memang sudah terbiasa dengan tradisi gonta-ganti menteri yang sering mengabaikan aspek kemampuan teknis ini. Masyarakat mafhum bila jabatan setingkat menteri tentulah lebih ditekankan pada aspek manajerial karena sangat bersentuhan dengan keputusan-keputusan strategis dan politis. Namun, apabila terlalu sering terjadi kasus kecelakaan transportasi di bawah manajemen kementerian yang dipegangnya, tentulah ini tak terlepas dari aspek kompetenesi yang dimiliki.
Sebuah analogi sederhana dapat dilihat pada manajemen sebuah rumah makan. Banyak orang yang bekerja di bisnis semacam ini mulai dari tukang masak, pelayan, penyambut tamu, tukang cuci piring, tukang bersih ruangan dan sebagainya. Apabila para pekerja di rumah makan itu selalu dan selalu melakukan kesalahan –apakah akibat faktor ‘human error’ atau ‘aspek teknis peralatan’- sudah sepatutnya kemampuan manajer rumah makan itu patut dipertanyakan. Apalagi, komplain para pelanggan semakin deras dan akan mempengaruhi citra rumah makan. Ujung-ujungnya tentulah nilai jual rumah makan tersebut menjadi sangat rendah dan prospek bisnisnya ke depan menjadi suram.
Menteri Perhubungan, Hatta Radjasa dalam banyak kasus kecelakaan transportasi ini tentulah sama dengan posisi seorang manajer rumah makan. Diperlukan kemampuan manajerial untuk mengatur tim kerja terkait dengan tugas-tugas teknis. Sudahkah peralatan yang ada selalu dikontrol masa ekonomisnya? Para pekerja dites atau menjalani proses assement agar tetap prima dan punya standar kompetensi? Atau rotasi jabatan di lingkungannya memang berjalan obyektif bukan karena faktor-faktor emosional dan subyektifitas. Kepantasan mundur dari jabatan amat tergantung pada kepekaan memaknai tugas dan tanggungjawab serta kompetensi yang dimiliki. ***

Fakhrunnas MA Jabbar adalah budayawan, tinggal di Pekanbaru.

STUDI BANDING

Dear All,
Benchmarking is important things to upgrade our performance. Many people love to do with go around many places in the world. May be, we are include as people that too love to do benchmarking with reason to get knowledge and best practice from others..while in their deepest heart that only for travelling...may you are not include this type..
warm regards,

KOLOM

Fakhrunnas MA Jabbar


STUDI BANDING


MASIH ingat kasus pemecatan Joko Edhi, anggota DPR RI dari Fraksi PAN yang dipecat oleh institusi partai setelah melakukan studi banding bidang keagamaan di Mesir? Begitulah, studi banding saat ini sudah kehilangan marwah. Banyak pihak menggunakan sebutan studi banding untuk mengemas sebuah perjalanan rekreasi dengan menggunakan dana publik. Padahal, setiap sen dana publik itu hendaklah dipertanggungjawabkan secara terbuka kepada pemiliknya yakni rakyat.

Padahal studi banding (benchmarking) yang benar merupakan proses pembelajaran pada pihak lain yang lebih sukses dalam melakukan suatu aktifitas dengan harapan kesuksesan tersebut dapat diadopsi. Perusahaan-perusahaan besar yang menjalankan praktis bisnisnya secara professional selalu melakukan proses studi banding ini guna meningkatkan kinerja. Jangan heran, dana yang dikucurkan untuk melakukan studi banding itu sangat besar karena feed back yang diharapkan sesudahnya dapat meningkatkan efisiensi dan keuntungan bisnis.

Negeri kita yang tak henti-hentinya ingin belajar, kegiatan studi banding menjadi aktifitas rutin dan seremonial di semua jenjang organisasi dan institusi. Dikhawatirkan, ada pihak yang menjadi studi banding sebagai pekerjaan pokok karena studi banding dipersepsikan sebagai traveling (perjalanan). Fenomena ini melanda organisasi kemasyarakatan dan politik hingga para birokrat pemerintahan. Selalu dan selalu saja bila hendak memulai suatu program yang baru –apalagi berbau spektakuler- di dalam anggaran yang disusun akan diawali dengan kegiatan studi banding. Padahal, apa yang akan dipelajari di tempat atau negara lain itu belum tentu lebih baik dibanding apa yang sudah dipraktikkan di tempat sendiri.

Studi banding yang berkepanjangan di negeri benar-benar membuat sebuah program menjadi tak menentu dan salah kaprah. Amati saja bagaimana pengembangan sistem pendidikan di negeri kita yang berpola maju-mundur sejak dulu. Semua kebijakan pendidikan itu diawali dengan studi banding di negara lain. Ironisnya, negara bandingan kadang-kadang hanya ditetapkan berdasarkan dorongan emosional dan subyektifitas para Meneri dan pejabat tinggi Departemen Pendidikan. Bila unsur pimpinannya mempunyai back ground pendidikan di negara Prancis maka kebijakan pendidikan kita akan merujuk ke negara bersangkutan atau Eropa. Tanpa terasa, secara silih berganti, kebijakan pendidikan kita berganti-ganti rujukan mulai dari Canada, Australia, Eropa dan tak mustahil ke negara-negara Asia sendiri termasuk Malaysia dan Singapura.

Masih ingat ‘kan, ketika masa belajar dalam sistem pendidikan kita yang gonta-ganti dari pola triwulan, caturwulan hingga semester. Sistem semester ini diprakarsai oleh Mendikbud, Daoed Joesoef yang sering melahirkan kebijaka-kebijakan controversial. Tapi untunglah logika penggunaan sistem semester ini masuk akal juga sebab kebijakan itu dimaksudkan untuk penyesuaian masa belajar di negeri kita dengan Eropa dan Amerika. Dengan demikian bila ada pelajar kita yang melanjutkan pendidikannya di luar negeri khususnya Eropa dan Amerika, tidak harus menunggu beberapa bulan untuk penyesuaian masa belajarnya.

Teramat banyak masalah dan kebijakan pendidikan kita yang berdampak akhir pada rakyat. Celakanya, kebijakan itu justru bisa-bisa mencederai rakyat kecil yang berpenghasilan pas-pasan. Ingat saja kebijakan ganti buku cetak pelajaran tiap tahun yang mengakibatkan belanja buku para orangtua menjadi membengkak karena buku tahun ini tak dipakai lagi untuk generasi tahun berikutnya. Kelak ditengarai ada ‘mafia buku’ yang melakukan praktik-praktik tak terhormat dengan mengorbankan rakyat.

Studi banding pengembangan pariwisata benar-benar menjadi pembenaran untuk traveling ke mancanegara. Sebab, berwisata itu sendiri merupakan bagian yang harus distudi. Tapi ketika angka-angka jumlah wisatawan mancanegara yang berkunjung di negeri kita tidak menunjukkan peningkatan yang signifikan, terasalah studi banding itu menjadi basa-basi belaka. Lihat saja data statistik dari tahun ke tahun, jumlah kunjungan wisatawan asing ke negeri kita berkisar 1-3 juta saja, sementara Singapura yang tak lebih dari negeri pulau seluas 50 ribu hektare mampu meraih angka 5-6 juta per tahun.

Belum lagi, studi banding soal pengentasan kemiskinan di sejumlah negara. Sudah tak terhitung perjalanan studi banding yang dilakukan pihak pemerintah kita –mulai pusat hingga daerah-daerah- dalam menangani orang-orang miskin yang tiap tahun cenderung terus bertambah. Tapi, angka kemiskinan dan nasib orang-orang miskin di negeri ini tak kunjung berubah secara signifikan. Malah, data-data kemiskinan saja begitu simpang siurnya. Pantas saja, budayawan Idrus Tintin (alm) menggagaskan untuk mengatasi kemiskinan cukup dikeluarkan sebuah Perda yakni Perda Kemiskinan. Salah satu pasal penting di dalam Perda itu berbunyi begini : setiap penduduk di daerah ini dilarang miskin. Barangsiapa yang masih miskin akan didenda atau menjalani masa kurungan/ tahanan. Dahsyat!

Tahun 2006 ini, begitu seorang bankir Bangladesh yang bernama Muhammad Yunus meriah Nobel Perdamaian, bukan tak mustahil banyak negara dan provinsi yang berhasrat melakukan studi banding ke sana. Sebab, Muhammad Yunus bersama sebuah bank yang mengucurkan kredit tanpa agunan bagi orang-orang miskin –khususnya kaum perempuan- berhasil mengangkatkan harkat banyak orang miskin di negeri itu. Siapa yang tak tergiur untuk mempraktikkan keberhasilan Muhammad Yunus itu ketika semua negara di dunia melalui Millenium Development Goal’s (MDG’s) ingin membasmi kemiskinan dan aspek-aspek social strategis lainnya.

Tradisi tak tertulis yang berlaku di negeri kita, setiap munculnya sebuah UU atau Perda baru tentang suatu masalah, sudah bisa dipastikan akan diikuti oleh kegiatan studi banding baik di dalam negeri sendiri maupun luar negeri. Bisa dibayangkan, berapa besar dana yang terkuras dalam melakukan studi banding itu. Akibatnya, apa yang dikatakan pepatah Melayu : hilang kapak karena mencari jarum.

Wahai para penyuka studi banding, kembalilah ke jalan yang benar bila tusi banding itu tak bakal menghasilkan apa-apa. Setiap sen uang rakyat yang dipergunakan hendaklah dipertanggungjawabkan dengan memberikan kemudahan pada rakyat. ***



Penulis adalah budayawan dan peminat masalah sosial, tinggal di Riau.

PERI KEBINATANGAN

hi all,
i just read about the treatment of some people on their pet..some animal treated as a human as like happen in hongkong..so i write how about 'perikebinatangan' that's opposite to 'human being' (perikemanusiaan".. the world is crazy ... peter pan sing a song with lyric : duniaku, tak dapat kumengerti/ kaki di kepala/ kepala di kaki...
enjoy this colomn :

KOPI PAGI
Fakhrunnas MA Jabbar

PERIKEBINATANGAN

TEMBANG anyar Peter Pan yang berlirik bolak-balik :”pikiranku, tak dapat kumengerti, kaki di kepala, kepala di kaki…” bolehlah menggambarkan bagaimana semrawutnya pemikiran umat manusia. Sesuatu yang semestinya menurut ukuran nilai-nilai normatif manusia harus disepelekan, tiba-tiba berubah jadi maha-penting. Sebaliknya, sesuatu yang esensial dalam kehidupan ini begitu mudahnya disepelekan. Inilah kehidupan duniawi yang penuh pernak-pernik sejalan dengan perkembangan pola pikir manusia.
Kantor berita AFP (5/1) melaporkan sebuah berita aneh. Di kota Ilan, Taiwan dilangsung pesta perkawinan yang tak lazim yakni dua ekor babi berlainan jenis. Sepasang babi yang bertekad menjadi pasangan sehidup semati itu disandingkan dengan memakai baju pengantin lengkap dengan segala aksesorisnya. Tak kurang dari 400 undangan -jenis bukan babi, tentu saja- menghadiri pesta perkawinan yang jarang terjadi itu. Hebatnya lagi, para undangan juga bawa hadiah perkawinanan berupa uang saweran yang sudah ditetapkan sebesar TWD 100 (setara dengan Rp. 27 ribu).
Ide perkawinanan itu muncul dari seorang warga Taiwan, Hsu Wen-chuan pemilik usaha peternakan babi di kota Ilan. Hsu ingin salah satu babi jantan peliharaannya bernama Shui Fu-ko bisa punya keluarga sendiri. Untuk meraih ambisianya, Hsu sampai memasang iklan lewat internet untuk mencarikan jodoh bagi Fu-ko kelahiran Desember 2005 itu.
Dalam ikllan itu, Hsu menyatakan Fu-ko dan pasangannya nakal hidup bahagia dalam sebuah kandang mewah yang memiliki kolam renang dan pemandangan gunung. Iklan ini disambut seorang peternak lain bernama Huang Pu-pu yang punya seekor babi betina. Akhirnya sepasang babi itu dinikahkan secara resmi oleh seorang pejabat pemerintah setempat. Oleh sebab itu jangan heran bila kedua babi ini mendapat sertifikat plus pemberkatan dari sebuah gereja setempat. Selidik punya selidik, ternyata Hsu sengaja mengawinkan babi kesayangan itu guna ikut menyambut datanganya Tahun Babi pada Hari Raya Imlek, 18 Februari ini.
Lantas, untuk apa digunakan uang saweran para undangan? Uang itu digunakan untuk amal dengan cara membeli mobil bagi anggota jemaah gereja yang mengalami gangguan mental. Nah, benar-benar rumit ‘kan? He he
Peristiwa ini bolehlah menjadi pertanda betapa semakin tingginya nilai-nilai peri-kebinatangan dalam hidup ini. Mudah-mudahan, peri-kebinatangan itu tidak mengancam nilai-nilai peri-kemanusiaan yang cenderung kian tergerus oleh perubahan zaman. Deraan dukacita dan tantangan kehidupan yang kian sulit di hampir seluruh dunia telah menempatkan manusia dalam posisi yang tersudut. Tak sedikit di antaranya yang gagal bertahan sehingga hidup mereka pun mengadopsi cara-cara binatang seperti ungkapan Machiavelli : “menghalalkan segala cara..”.
Ihwal binatang kesayangan yang dipelihara manusia memang banyak ragam kisahnya. Banyak sekali manusia yang hidup serumah dengan binatang-binatang itu dengan ikatan emosional yang luar biasa. Jenis binatang yang dipelihara pun makin lama semakin komplit. Mulai dari harimau, anjing, ikan, kucing, burung, ular, kelinci hingga herwan purba, iguana. Kasih sayang yang diluahkan untuk binatang kesayangan itu kadangkala sangat berlebihan. Seorang kolega saya bercerita bagaimana seorang kaya -sahabatnya- memelihara seekor monyet yang tidur seranjang bertiga dengan istrinya. Hebatnya lagi, monyet itu tidur di tengah-tengah. Tapi sial, suatu malam, monyet itu tiba-tiba mengamuk sampai menggigit telinga tuannya. Cemburukah Sang Monyet pada istri tuannya? Ow, tunggu dulu. Ternyata saat tidur, Si Tuan sempat menghimpin bagian tubuh monyet sehingga merasa kesakitan dan balas dendam…
Masih banyak cara mengistimewakan binatang kesayangan yang terus berlangsung di dunia ini. Ada lomba merias binatang, fashion show atau lomba atau adu kehebatan lainnya. Bahkan, banyak sekali kelompok penyayang binatang yang bermunculan untuk membela hak-hak asasi binatang. LSM besar dunia seperti Greenpeace sdan WWF berulangkali melakukan protes eksploitasi dunia binatang yang dilakukan manusia seperti penangkapan atau pencemaran atas habitat ikan paus atau perburuan hewan liar yang kian langka. Termasuk, menjadikan hewan langka yang diawetkan itu dijadikan pajangan di ruang tamu. Bahkan, organisasi -organisasi tersebut pernah memprotes para selebriti dunia yang doyan mengenakan pakaian yang terbuat dari kulit ular, harimau atau hewan lainnya.
Harga binatang peliharan ini pun makin lama meningkat tajam. Bukan berita yang mengejutkan bila ada harga burung atau kucing peliharaan mencapai ratusan juta rupiah. Itulah sebabnya, binatang-binatang peliharaan itu disayangi mati-matian. Sebuah survei di Jepang menunjukkan binatang peliharaan terutama anjing dan kucing ternyata memiliki usia hidup lebih lama. Hampir separuh dari anjing peliharaan di negeri itu mencapai usia 7 tahun atau setara dengan usia 50 tahun pada manusia. Analisis Asosiasi Produsen Makanan Binatang Peliharaan (PFMA) di negeri Geisha itu melansir sebagai akibat kian bagusnya kualitas makanan hewan dan tingkat perawatan yang makin sempurna.
Manusia dan binatang itu sebenarnya dipisahkan oleh sehelai benang saja. Ada sebuah pepatah Arab begini : al insaanu ahayawanun natiqah (manusia itu adalah hewan yang berakal). Maknanya, selagi manusia masih menggunakan akal sehatnya maka sempurnalah kemanusiaannya. Tapi bila akalnya sudah tiada atau menjauh dari rasionalitas maka perilaku kebinatanganlah yang akan muncul ke permukaan.
Ajaran bijak ‘alam terkembang jadi guru’ yang sangat terkenal di ranah Minangkabau mengingatkan kita agar selalu belajar dari alam termasuk binatang. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi sebenarnya sudah memulainya jauh hari. Bagaimana, gaya aerodinamis pada pesawat terbang dan kapal ternyata mengadopsi format tubuh burung. Begitu pula, teknologi pesawat terbang bersandar pada pola burung terbang yang mengepakkan sayapnya.
Sayangilah binatang, kata manusia. Jangan sampai binatang-binatang suatu kelak akan berucap pula : “sayangilah manusia.” Ini maknanya betapa sudah hancurnya kebudayaan dan peradaban kita. ***

Tuesday, February 13, 2007

BANJIR KESALAHAN, EH, MISTAKE FLOOD

dear all,
ketika hampir seluruh negeri kita dilanda banjir, hati saya makin kecut saja. pasti ada yang salah dalam mengurus negeri ini yang berlangsung secara berkesinambungan. banjir boleh dipandang sebagai peristiwa alamiah tetapi juga tak kalah penting diakibatkan salah penataan lingkungan dan disiplin menjaga lingkungan secara bersama-sama..
tapi yang lebih hebat dari peristiwa banjir ini adalah fenomena yang muncul sesudahnya..bangsa kita memang punya tipikal untuk saling menyalahkan..nah, inilah yang saya sebut dengan 'banjir kesalahan' itu. pihak sana menyalahkan pihak sini dan balik menyalahkan pihak sana..lihatlah, banjir di kota jakarta selama hampir sepekan, awal februari 2007 lalu telah membuat kota jakarta bagai 'kota venisia' yang mempunyai infrastruktur perhubungan berupa perairan. cemoohan lain menyebut jakarta sebagai 'jakarta under water' (dulu pernah dipopulerkan oleh moamar emka dengan 'jakarta undercover')..pokoknya kita benar-benar malu punya ibukota republik ini benar-benar terendam sampai 60 persen luasnya...
banjir kesalahan pun meluap saat merespons banjir jakarta ini. pemerintah jawa barat pun disalahkan karena tidak ketat menjaga tata ruang yang semula disediakan sebagai 'catchment area' (wilayah tangkapan air) yang diharapkan dapat menahan laju arus air dari kawasan puncak menuju jakarta saat musim hujan melanda..tapi pemrov jabar pula balik menyerang pemrov dki jakarta yang dinilai tak bisa menjaga harmonisasi sungai-sungai yang ada -konon sejak zaman belanda dulu terdapat 13 aliran sungai di jakarta termasuk ciliwung yang sangat legendaris itu.
banjir keslahan ini terus tumpah ke semua pelataran kehidupan..mulai warga yang buang sampah sembarangan, bantaran sungai jadi pemukiman kelompok 'the have not' hingga rimba beton jakarta yang terus menggerogoti kawasan hijau... tapi muara dari semua pertelagahan (pertengkaran) itu tak lain terkait duit juga..ada pihak-pihak yang begitu mudah meloloskan sebuah proyek infrastruktur setelah iming-iming duit...heh
banjir membuat kita sedih..tapi banjir kesedihan tak akan menyelesaikan masalah kecuali dimulai kesadaran untuk bermusyawarah bagi para pemangku kepentingan terkait dalam soal banjir itu..persis seperti penanganan sungai rhein di eropa yang melibatkan empat negara di antara inggris dan prancis....
banjir kesalahan harus dihentikan segera..!
salam,
fmj
pekanbaru, 13 februari 2007

Thursday, August 24, 2006

PEMIMPIN PANUTAN

PEMIMPIN PANUTAN

KEPEMIMPINAN Nabi Muhammad SAW yang paling utama adalah keteladanan (uswatun hasanah). Ini sudah diajarkan sejak belasan abad yang silam. Boleh jadi, keteladanan ini pula yang mengusik hati Michael H. Hart yang menulis buku 100 Tokoh Paling Berpengaruh di Dunia dengan menempatkan Nabi Muhammad SAW sebagai pemimpin di nomor urut pertama. Ajaran kepemimpinan yang berbasis keteladanan ini dikembangkan pula oleh Stephen R. Covey, seorang Trainer handal dan penulis buku best seller 7 Habits dan 8 Habits. Dalam sesi training 4 Role, Covey secara tegas pula menempatkan keteladanan (model) sebagai inti kepemimpinan. Artinya, bila seorang pemimpin ingin bermakna di mata publik pendukungnya hendaklah menunjukkan keteladanan sikap dan perilakunya.
Pemimpin panutan di akhir abad ini terasa semakin langka meski hampir setiap hari pemimpin-pemimpin di segala bidang baik negarawan, profesional maupun pemimpin masyarakat terlahir di muka bumi, Tapi berapa banyak di antara pemimpin itu yang membekas jauh di lubuk sanubari masyarakat pendukungnya seperti kharisma yang dimunculkan oleh Khalifah Abubakar Siddik, Mahatma Gandhi, Madame Teresa dan sejumlah nama lagi.
Suatu hari, saya berbincang dengan budayawan H. Tenas Effendy. Kegalauan soal makin langkanya pemimpin panutan itu tak dapat disembunyikan budayawan Melayu ini. Di mata Pak Tenas, pemimpin yang santun saja dalam bertutur pun sudah kian sulit dicari. Dalam berbagai pernyataan di muka publik, para pemimpin kita berucap sesuka-sukanya dengan kurang mempertimbangkan kesantunan. Tak jarang di muka umum, sesame pemimpin pun saling sindir, saling maki dan saling jegal.
Pak Tenas sempat menceritakan bagaimana kesantunan pemimpin yang diperlihatkan oleh seorang Nadjhib Tun Razak, Timbalan Perdana Menteri Malaysia. Dalam sambutannya di sebuah Pertemuan Dunia Melayu di negeri jiran itu, Nadjib sempat mengungkapkan kegalauannya atas rasa keserumpunan Melayu bangsa Indonesia-Malaysia yang terdegradasi ketika Kasus Ambalat sedang memuncak. Memang dalam demonstrasi yang digelar orang-orang Indonesia amat mengedepan kembali jargon ‘Ganyang Malaysia’ yang sangat popular di zaman Orde Lama-nya Bung Karno. Tapi, Nadjib melihat di salah satu spanduk demonstran ada kalimat berbunyi begini : “Malaysia No, Siti Nurhaliza Yes.”
“Kalau memang orang Indonesia tak suka dengan Malaysia karena Kasus Ambalat itu, kami bisa mafhum. Dan bila saudara-saudara kami dari Indonesia merasa boleh menerima penyanyi Siti Nurhaliza, tak masalah juga. Silakan ambil saja karena memang kita ini bangsa serumpun,” begitu kira-kira ucapan Nadjib yang sangat membekas dalam hati Pak Tenas. Ternyata dalam diplomasi kenegaraan pun, seorang pemimpin masih bisa santun dan lembut.
Pemimpin di negeri kita boleh silih berganti pula di setiap jenjang wilayah. Proses Pemilu dan Pilkada merupakan ajang demokrasi yang memberikan hak penuh pada rakyat untuk menentukan pemimpinnya. Namun, belum tentu pemimpin-pemimpin terpilih benar-benar memenuhi standar yang diinginkan karena ‘pemimpin juga manusia’. Masih banyak celah kurang dan janggal di samping kelebihan personal yang dimilikinya.
Munculnya cerita-cerita lucu mengiringi seduhan kopi pagi di kedai-kedai minuman (mouth to mouth/ dari mulut ke mulut) mencerminkan adanya kegalauan orang banyak atas kualitas pemimpinnya. Masih ingat sebuah anekdot tentang seorang Camat yang memimpin Apel Bendera? Ketika mengucapkan bacaan Pancasila yang harus diikuti oleh seluruh peserta upacara, Sang Camat berucap begini :
“Pancasila…. Satu: Tetap. Dua : Tetap. Tiga : Tetap. Empat: Tetap. Lima: Tetap….”. Usai upacara semua peserta upacara riuh-rendah mempergunjingkan kejadian yang jarang terjadi itu. Sewaktu sejumlah wartawan menanyakan soal ini langsung pada Camat, enteng saja dijawab: “Nah, butir-butir Pancasila kita masih tetap dan belum berubah ‘kan?” Semua orang di sekitarnya jadi ikut-ikutan terpingkal. Ada-ada saja ulah ‘Si Camat Tetap’ ini.
Masih banyak anekdot lain tentang pemimpin wilayah atau Kepala Daerah di tanah air kita. Sebagai anekdot tentulah sulit dirunut kebenarannya. Konon, seorang Kepala Daerah saat memulai tugasnya berpidato di depan masyarakat berucap begini: “Sebagai Kepala Daerah yang baru, saya bersama Tim bertekad untuk memajukan daerah ini. Kalau saat ini terdapat 20 persen Daerah Terisolir, mudah-mudahan di akhir masa jabatan saya kelak sudah mencapai 100 persen…” He he..belum tahu dia, ‘Daerah Tersilor’ itu apa?
Kekeliruan manusiawi siapa saja –termasuk Kepala Daerah- boleh saja terjadi kapan, bilamana dan di mana saja. Sama halnya ketika seorang pemimpin yang tak memahami penjenjangan perkuliahan di Perguruan Tinggi akan berucap sangat janggal begini: “Baiklah, saya akan mengalokasikan anggaran untuk para pegawai saya kuliah di bangku Perguruan Tinggi. Kalau perlu, saya akan biayai mereka sampai ke Semester 15…”. Padahal untuk jenjang S1 hanya diperlukan waktu 8-10 semester saja.
Masih banyak salah ucap (slip oh the tounge) para para pemimpin kita yang muncul secara tak sengaja. Tapi amatlah disayangkan apabila salah ucap itu justru bermula karena ketidaktahuan. Sebutlah saat menyebut kata : ‘reformasi’ menjadi ‘renovasi’, ‘konstruktif’ menjadi ‘destruktif’ atau lagi ‘faximile’ menjadi ‘Pak Ismail’. Oooo.......****

Tuesday, July 18, 2006

'AYAM PALEMBANG'

Salam,
We always meet many people with many characterism. In the traditional tale, we introduced with good intelectual actor or bad. But, we can justify all people surround us with just say good or bad. One day, may be you can meet someone with this character : like to show his/ her power, performance or succes story by over way. Our soul will reject the way.
Suddenly, I remember with my friend story when he live in a city in Java. He has a new neighbor that came from Palembang. This story is inspiring me to write the phenomena. Pls enjoying this :

‘AYAM PALEMBANG’
EH, PALEMBANG CHICKEN
Oleh Fakhrunnas MA Jabbar

BERKISAH soal ayam selalu menarik perhatian. Apalagi ketika wabah flu burung sedang merebak. Dulu, kalangan kampus benar-benar gerah ketika maraknya isu ‘ayam kampus’. Semua pimpinan kampus menolak mati-matian bahwa di kampus mereka tak ada ‘ayam kampus’ itu, walau kenyataannya ‘ayam-ayam’ itu hingga hari ini terus saja beranak pinak . Hehhh…
“Ayam Palembang” eh, ‘Palembang Chicken” yang hendak saya ceritakan ini memang tak ada kait-mengait dengan ‘ayam kampus’ itu. Sebutan ayam di sini memang dalam makna yang sebenarnya. Cerita ini semata muncul dalam joke sebagaimana joke-joke berlatar etnik lainnya seperti perihal Orang Aceh, Orang Arab, Orang Batak, Orang Melayu dan sebagainya. Tak lebih dari itu.
Seorang kolega saya menceritakan soal ‘Ayam Palembang’ ketika pernah bertetangga dengan sebuah keluarga dari Palembang. Sederhana saja. Si tetangga asal Palembang ini ternyata terbilang OKB alias Orang Kaya Baru. Semua perabotan dan isi rumahnya memang terbilang mewah. Pokoknya semua yang dipajang termasuk barang-barang berkelas dan bermerek. Tapi, sialnya, take ada tetangga lain yang datang ke rumah itu dan memuji-muji kehebatan dan kekayaannya. Ternyata tak hanya pelanggan saja yang harus dipuaskan, pemilik pun butuh kepuasan juga.
Merasa tak ada yang datang, tetangga Palembang ini mulai cari kiat. Kebetulan saja, sejumlah ayam milik tetangga sebelah rumahnya pernah memasuki rumahnya tanpa izin. Soal ayam inilah yang dijadikan alasan.
“Macam mano ayam kalian ini, gara-gara tak dikandang, leluasa masuk ke rumah kami…” kata tetangga Palembang pura-pura naik darah dengan dialek Palembang yang khas.
“Alaaah, Bu, maaflah, ayam memang tak berotak. Masuk rumah orang sesukanya. Nantilah, kami kandangkan saja agar take mengganggu tetangga…Maaf, ya Bu.” Tetangga yang jadi sasaran langsung saja memohon maaf.
Nyaris tak peduli dengan permintaan maaf itu, tetangga Palembang ini terus saja mencecar tetangganya.
“Hari itu, ayam kalian masuk lagi ke rumah kami. Semua keluarga kami berusaha mengusirnya. Eh, malah bikin kacau. Ayam itu melompak ke TV 54 inchi di ruang tamu..terus masuk ke ruang tengah, dia naik lagi ke atas kulkas 4 pintu. Belum selesai itu, waktu melintas di ruang tamu, dia berak pula di atas permadani..padahal permadani itu dibeli Bapak jauh-jauh dari Turki. Akhirnya kami halau ke garasi. Ooo,,walah, ayam itu melompat ke atas mobil BMW Seri 7…dah tergores pula catnya..Padahal..itu mobil kesayangan Bapak…” Setelah mengata-ngatai tetangganya, ibu muda asal Palembang itu langsung pulang ke rumahnya sambil tersenyum sipu. Dalam hatinya, ia berterimakasih juga pada ayam karena telah mengungkapkan soal kekayaannya pada si tetangganya. Coba, kalau tak ada ayam itu …..
Cerita diatas tentu hanya bersifat kasuistis belaka. Artinya, hanya segelintir Orang Palembang saja yang begitu. Saya sampai merujuk kisah itu pada beberapa kolega saya yang memang berasal atau lama tinggal di Palembang sejauhmana kebenarannya. Namun, menarik, saya justru mendapat tambahan bekal cerita yang lain bahwa orang Palembang itu pandai juga menyembunyikan keterbatasan atau ketakberadaan dirinya. Sebutlah, bagaimana ada orang Palembang yang membeli kepala ikan Teri (baca: bilis) di kedai. Waktu ditanya pembeli yang lain, dia langsung bilang: :”Ah, kucing di rumah sudah lama tak makan sedap”. Begitu pula waktu membeli beberapa sendok minyak makan, dia berdalih: “Ah, minyak ini untuk mengurut anak di rumah.”
‘Ayam Palembang’ sebenarnya merupakan sikap atau perangai menunjukkan kehebatan diri yang dikemas dengan pura-pura marah, sibuk atau apa pun namanya, sudah menjadi kebiasaan kita sehari-hari. Meski hal ini tak begitu disadari. Perhatikan saja, tutur kata dan cerita orang-orang di sekeliling kita yang sarat dengan fenomena ‘Ayam Palembang” itu.
Di tempat kerja kita sering didengar bagaimana atasan mengomel dan marah-marah karena hamper take punya waktu untuk bersantai. Ketika seorang bawahannya menanyakan kenapa kurang ceria, Si Atasan bertutur soal kesibukannya yang tak ketulungan: “Bagaimana saya tak marah-marah… Padahal saya baru saja pulang dari Prancis dan Amerika, besok disuruh menghadap Presiden lagi…terus bertemu Menteri ini..Menteri itu…Ah, pusing..!”
Rasakanlah betapa kental ‘Ayam Palembang’ dalam penuturan Si Atasan. Soal lelah dan sibuk, semua orang menghadapinya. Tapi, persoalannya, kenapa harus menyebut kata-kata Amerika, Peancis, Presiden, Menteri-menteri dan sebagainya. Tapi ini, tentu bukan sebuah kesengajaan melainkan kebiasaan yang membanggakan diri atau menunjukkan kehebatan diri pada orang lain. Heeeee….
Suatu kali, ketika saya dan beberapa kolega naik taksi Singapura –nah, ini juga gejala ‘Ayam Palembang’- sempat terjadi macet. Salah seorang kolega, langsung nyeletuk : “Macet di Singapura ini belum seberapa, aku baru pulang dari Brasil, wow, di sana macetnya parah betul…” Seisi taksi ketawa riuh rendah karena kolega yang baru pulang dari Brasil tadi langsung disoraki ‘Ayam Palembang’. Si ‘Brasil’ tadi pun jadi tersadar dan ikut-ikutan menertawakan dirinya…
Masih cerita di Singapura. Ketika kami akan menghadiri sebuah event internasional di sebuah hotel berbintang yang mengharuskan semua hadirin memakai business suit –jas lengkap- seorang kolega mengelus-elus dasinya. Seolah-olah ada masalah dengan dasinya. Lantas, saya bertanya: “Ada apa dengan dasi awak?”. Sang kolega bertutur lembut:
“Ah, percuma saja aku beli dasi ini mahal-mahal dan di London lagi…ternyata jahitannya bisa lepas juga…”. Cerita Si ‘London’ ini langsung disergap teman-teman lain dengan pekikan ‘Ayam Palembang’. ***

Monday, July 10, 2006

SEPAKBOLA KAMPUNG



Dear All,
While we ar on front of TV to watch Zinedin Zidane (Best French Player) in the 2006 World Cup in Germany, our imagine will back to the past. Backt to our innocent time in our village. Really, we have became a true villager. We have mny games in the time e.q uniquely soccer with big orange as ball.
My writing about The Village Soccer eh, Sepakbola Kampung.
Enjoying it with warm heart...


SEPAKBOLA KAMPUNG
Oleh Fakhrunnas MA Jabbar

SETIAP datang musim Piala Dunia, hampir semua orang di dunia terlibat urusan sepakbola. Mulai dari kaum lelaki yang dominan lebih menyukai cabang olahraga ini hingga kaum perempuan yang mau tak mau ikut menemani atau mempersiapkan suguhan kopi dan pengaman buat suami saat menonton pertandingan sepakbola itu di layar TV. Lebih dari itu, anak-anak di kampung-kampung biasanya ikut-ikutan ketularan menendang bola di tanah lapangan yang biasanya gundul atau berlumpur disiram hujan. Itulah euforia sepakbola yang tak pernah lapuk dek hujan, lekang dek panas.
Suka atau tak suka, bila menyaksikan kepiawaian kaki-kaki para pemain sepakbola dunia seperti Ballack, Owen, Beckham atau Nakata, selalu saja terbayang bagaimana di masa kecil dulu kita pun pernah menunjukkan kepiawaian semacam itu dalam ruang lingkup yang paling kecil di kampung halaman sendiri. Penuh sorak-sorai dan keakraban. Berbahagialah orang-orang yang pernah menikmati indahnya bermain sepakbola kampung di masa kecilnya. Soalnya, kita boleh curiga bila ada suami yang suka-sukanya menendang anak-bininya karena luapan emosi tak terkendali di masa kini. Jangan-jangan di masa kecilnya lelaki seperti ini tak pernah merasakan romantisme menendang-nendang bola di laman bermain.
Secara psikologis, pelampiasan aksi kekerasan pada benda-benda mampu menjadi solusi dalam mengendalikan kemarahan. Ingat saja bagaimana film kungfu Drunken Master yang menampilkan adegan Sang Aktor memecahkan kendi-kendi yang dibawa selalu oleh jongosnya hanya untuk melampiaskan kemarahan yang tertahan. Memukul kendi sampai remuk berderai jauh lebih mulia dibanding memukul orang lain sampai lebam berdarah-darah. Tampaknya perlu dikembangkan gerakan ‘marah berkualitas’. Apalagi di negeri kita yang penuh kemarahan dan tak kunjung usai juga.
Ihwal sepakbola kampung mendedahkan kepada kita sebuah romantisme dan kemesraan yang selalu indah untuk dikenang. Main bola di lapangan rumput yang tak teratur atau di halaman rumah yang penuh pokok kayu atau lagi di halaman sekolah yang selalu diawasi ketat oleh penjaga sekolah, sebenarnya memperlihatkan sebuah spirit (semangat) berjuang, bekerjasama dan ajang berkomunikasi. Inilah yang sekarang didengung-dengungkan sebagai social capital yang kian luntur. Anak-anak semakin kehilangan laman tempat bermain-main karena dikepung dan diserbu oleh kapitalis kondominium, real estate, mal-mal atau gedung pencakar langit lainnya.
Bayangkan selalu, bagaimana bekas dan bercak lumpur kehitaman di dinding-dinding putih sekolah atau rumah akibat pantulan bola limau atau bola plastik yang sangat murah-meriah. Bertanding sepakbola tanpa kostum –cukup pihak lawan membuka baju setengah telanjang- di bawah terik matahari atau hujan gerimis yang tak kenal batas. Hebatnya, sportifitas itu tetap terjaga di bawah pengawasan anak-anak yang lebih tua usianya. Sekali-sekali memang terjadi perkelahian, tapi secepatnya bisa dilerai dan keesokan harinya berteman lagi. Ah, indahnya pertandingan masa kecil itu.
Menyaksikan pertandingan Piala Dunia 2006 yang menghadapkan kesebelasan favorit seperti Jerman, Inggris, Argentina atau Brasil dengan kesebelasan negara-negara Afrika yang selama ini dipandang sebelah mata seperti Angola, Togo, Trinidad atau Ghana, bagai menyindir diri sendiri. Di mana posisi negeri tercinta, Indonesia berada dalam gelak-tawa dan pestapora Piala Dunia itu? Dari 230 juta penduduk negeri ini, begitu susahnya menemukan 11 pemain dikali 2 yang dapat mensejajarkan nama bangsa kita di deretan bangsa-bangsa lain.
Kisah muram tentang pemain sepakbola negeri ini yang bertinju di lapangan hijau atau tawuran antar pendukung kesebalasan atau juga memukul dan memaki-maki wasit, selalu menyesakkan kenyamanan jiwa kita. Padahal, bangsa kita dikenal sejak dulu amat santun dengan tunjuk-ajar yang tak habis-habisnya sehingga ‘alam terkembang pun jadi guru’. Bendera besar berwarna biru bertuliskan : My Game for Fair Play yang selalu dikembangkan di lapangan hijau Jerman selama Piala Dunia 2006, terasa bukan hanya sekadar simbol. Tapi benar-benar menjadi kalimat ajaib yang memukau seluruh pemain dan penonton untuk menunjung selalu sportifitas. Padahal di masa kecil kita dulu, tabiat berlaku fair play sebenarnya sudah menjadi pakaian sehari-hari.
Dalam urusan sepakbola, negeri kita bagai tak bermaya untuk bangkit menjelang kegemilangannya. Untunglah masih ada pertandingan sepakbola unik yang diperagakan di sejumlah pesantren dengan menggunakan bola api atau bola buah durian yang berduri tajam. Para santri dengan kaki telanjang dan berkain sarung menyepak bola apiatau buah durian itu kian-kemari ke arah tiang gawang yang dijaga santri juga. Pertandingan itu tentu saja bisa lebih seru dibanding Piala Dunia karena keberanian para pemainnya yang tak takut api atau duri-duri yang tajam.
Sepakbola kampung terasa menjadi sesuatu penawar dalam pikiran kita ketika menyaksikan keperkasaan kesebelasan-kesebelasan dunia di ajang Piala Dunia yang bergengsi itu. Soal ketakberdayaan kesebelasan Indonesia di even dunia boleh jadi diperkuat oleh anekdot ini. Konon kabarnya, di zaman Belanda dulu, kesebelasan Aceh sulit memenangkan pertandingan melawan kesebelasan mana saja. Pasalnya, di tengah pertandingan, pihak lawan yang lihai selalu membisikkan pada pemain-pemain Aceh terutama kiper bahwa bola yang ditendang-tendang itu sebelumnya dilumuri minyak babi. Para pemain Aceh yang memang agamis sehingga negerinya dijuliki ‘Serambi Mekkah’, saat berhadapan dengan lawan membiarkan saja bola itu digiring pemain lawan. Parahnya lagi, kiper pun tak berani menyentuh bola sedikit pun saat ditendang ke arah gawang. ***

My Heart



My Hearts : Fariz Ihsan Putra, Faras Mutiah Putri and Faras Annisa Putri

GILA BOLA

Hi, i am sure that all of us have used his time on front of TV during 2006 World Cup. We didn't know exactly why do all us trapped in the sport entertainment while we have never touch the soccer ball. In my mind, all people like for the chalanging, competition and fighting.
And the finalize result after Italy can be a Great Winner. Congratulation for Azzuri Football Team. While the host, Germany Team hast to satisfy became a Third Position. We learned many learning in this game... Fair Game first..!
I wrote a column abiut this issue with uniquely tittle : Bila Lagi Gila Bola jadi Bala... Enjoy it now..


BILA LAGI GILA BOLA JADI BALA
Oleh Fakhrunnas MA Jabbar

ENTAH bagaimana mulanya, bola selalu menjadi representasi symbol maskulin (kejantanan). Cobalah sekali-kali di depan publik saat berpidato sampaikan pesan pada hadirin pria : “Bapak-bapak, jangan pernah mempertontonkan ‘bola’ Anda di depan umum.” Atau “Jangan permainkan ‘bola’ Anda sembarangan.” Di sinilah kata ‘bola’ (diberi tanda petik) mempunyai makna konotatif atau makna yang bukan sebenarnya sehingga mempunyai interpretasi lain. Nah pagi para Piktor (pikiran kotor), kata bola bisa ditafsirkan pada sesuatu yang negative.
Realitas menunjukkan bahwa bola atau benda yang berbentuk bundar menjadi bagian teramat penting dalam aktifitas olah raga atau permainan yang menggunakan alat peraga. Mari kita lihat yang dimulai dari ukuran bola yang paling kecil hingga bola terbesar. Guli (kelereng), boleh disebut ukuran bola paling kecil, terus bola ping pong, bola golf, bola tennis (kasti), bola polo air, bola voli, bola basket hingga yang terbesar balon gas (balon udara) seperti yang pernah dirintis oleh Zeppelin.
Bola yang digunakan dalam banyak cabang olahraga atau permainan ini pun tak selamanya bulat seratus persen. Lihat saja, bola –eh, bulu- tangkis yang justru dilengkapi bulu ayam atau bola rugby yang bentuknya dibuat lonjong. Bagaimana bentuk-bentuk bola itu diciptakan tentu sangat ditentukan oleh kreatifitas si penciptanya.
Tapi di balik semua persoalan yang berkait bentuk dan ukuran bola, satu hal yang sulit diterima akal bagaimana bola-bola itu diperlakukan oleh para pemain. Malang betul nasib bola ini karena tiap sekejap ditendang, dipukul, dihempas, dijotos, ditunjuk, dituding, dilempar atau ditindih ramai-ramai. Meski ada kalanya juga sebagian bola yang dipeluk erat saat kipper sepakbola menangkap bola saat ditendang ke arahnya.
Salah seorang pejabat di Riau beberapa waktu silam, sempat berseloroh ketika ditanya wartawan tentang hobinya. Sang pejabat ternyata lebih suka bola tenis ketimbang golf yang menjadi idola banyak pejabat lainnya. Kenapa tidak golf? Guyonan pejabat ini: “Main golf itu untuk lelaki yang tak setia karena berganti-ganti lobang –padahal maksudnya hole golf, tentu saja.” Untunglah waktu itu tak ada wartawan yang Tanya bagaimana halnya dengan bola tennis? Sebab kalau mau ditafsir-tafsir bisa begini :”Permainan tenis itu untuk lelaki yang mencintai pasangannya separuh hati. Sebab, ada kalanya dipegang dan dielus-elus dengan mesra tapi seketika itu juga dipukul sekeras-kerasnya..”
Berurusan dengan bola ini, banyak pula para isteri atau kekasih yang komplain. Sebab, hobi main bola ini bisa-bisa mengalahkan kepentingan isteri plus anggota keluarga yang lain. Setidak-tidaknya banyak para pecandu olahraga yang memproklamirkan permainan olahraganya sebagai ‘bini kedua’. Artinya, bakal ada waktu yang tersita di luar kepentingan rumah tangga atau keluarga untuk memenuhi kebutuhan hobi atau kesukaan. Konon kabarnya, ada juga yang menyebut hal semacam ini sebagai ‘hak prerogatif’ seorang lelaki atau suami. Persoalannya bagaimana kalau isteri juga menyatakan olahraga yang disenanginya sebagai ‘hak preogatif’ pula? Inilah yang selalu didengungkan dalam lirik lagu lama Betharia Sonata (kalau tak salah ingat): “…kau duduk di sana, kududuk di sini..menyepi…”.
Di saat-saat demam Piala Dunia, tentulah perebutan kepentingan dan waktu ini akan menjadi suasana menarik baik karena menonton bareng di hotel atau cafĂ© atau pun di rumah. Para suami yang tergolong ‘gibol’ alias gila bola –mudah-mudahan tidak gila ‘bola’ he he- dipastikan akan menghabiskan waktunya berjam-jam di tengah malam buta di depan layar kaca. Sebagai isteri yang setia -lebih-lebih lagi masih berstatus pengantin baru- dipastikan akan pula ikut mendampingi sang suami menonton pertandingan sepak bola di depan TV. Meskipun pada akhirnya, peran si isteri lebih banyak tidur mendengkur mengimbangi riuh sorak-sorai penonton di layar TV. Selanjutnya, si isteri harus siap pula membuatkan kopi panas dan makanan ringan untuk menepis rasa kantuk.
Bila Piala Dunia berlangsung lebih satu bulan, dipastikan banyak keseimbangan hidup yang terganggu. Para suami yang mau begadang larut malam hingga subuh hari, dipastikan akan telat bangun pagi. Ini berpengaruh langsung terhadap produktifitas kerja di kantor. Bagi Kepala kantor atau boss di tempat kerjanya masih punya dalih ‘ada tugas lain di luar kantor’ bila terlambat datang di kantor. Persoalannya bagi para pegawai atau karyawan biasa? Nah, bila lagi gila bola tentulah bakal jadi bala (bencana)..Suaaaiiiiiii???
Bala lain bisa muncul tiba-tiba di tengah rumah bila hobi menonton pertandingan sepakbola Piala Dunia disertai pertaruhan (judi) pula. Jangan heran bila di tengah malam buta saat pertandingan sepakbola sedang berlangsung, handphone atau telepon akan sangat sibuk karena masing-masing pihak sedang bernegosisi soal angka taruhan. Boleh jadi, inilah perjudian terselubung yang sulit diungkap pihak aparat kepolisian karena selalu dilakukan dengan dalih ‘main-main’ atau iseng saja. Bayangkan saja bila sedang bernegosisasi soal ini sempat dilacak atau dipergoki petugas berwajib. Inilah bala itu.
Soal bertaruh main bola ini –seperti main judi lainnya yang membutuhkan tebak-tebakan angka- banyak cara dilakukan seseorang untuk memenangkan pertaruhan atau tebak-tebakan. Konon dulunya, bagi orang Pekanbaru ketika Sulan –salah satu orang gila paling terkenal dan bisa mengalahkan popularitas selebriti masa itu- yang selalu tak pakai baju dan memakai celana kumal dan robek-robek, didatangi para petaruh. Dengan gaya menggertak dan memaksa, si petaruh meminta angka skor pertandingan pada Sulan yang memang gila.
“Sulan, berapa kedudukan pertandingan Brazil-Inggris nanti malam?” tanya Si Petaruh. Sulan diam saja dan melengos. Tetapi setelah didesak berulang-ulang, Sulan jadi gerah dan langsung berdiri untuk menghindar. Persoalannya, saat Sulan berdiri ternyata celananya melorot.
Si Petaruh tersenyum puas dan setelah celana Sulan yang lepas dan melihat ke arah ‘bola’ Sulan, langsung menyimpulkan : “Pasti 2:1.”. Dia pun tertawa terkekeh-kekeh… He he he ..!***

Thursday, July 06, 2006

It's Me

INDONESIAN PEOPLE..

Hai Salam Jumpa,
Aku memang selalu gelisah atas apa yang terjadi di negeri sendiri. Ada-ada saja hal yang kurang menggembirakan ketika belahan dunia lain terus berpacu laju meniti buih perabannya. Orang-orang di negeri lain leluasa memasuki dunia global dengan segala pernik-pernik kemajuan. Di sisi lain, orang-orang negeriku tak henti-hentinya menggali lubang buat dirinya sendiri. Makanya aku benar-benar terkesima ketika membaca puisi Taufik Ismail 'Malu Aku (Menjadi) Orang Indonesia'. Dalam komunikasi di alam maya dengan banyak orang di mancanegara, sering kualami begitu menyebutkan asalku dari Indonesia, mereka langsung menghentikan perbincangan. Sebab image yang melekat dalam pikiran mereka ketika masa-masa awal reformasi tahun 1998 ketika terjadinya pelanggaran HAM, pemerkosaan dan tindak kekerasan selama masa-masa euforia reformasi itu. Aku berusaha menjelaskan pada mereka sesungguhnya apa yang mereka dengar, baca dan lihat, tidak sepenuhnya begitu. Negeri Indonesia masih memiliki banyak ragam social capital yang menakjubkan...ya keindahan, keramah-tamahan dan kelembutan..
Tapi, di sudut hatiku yang lain, tak bisa disembunyikan masih banyak oknum-oknum orang senegri yang yang masih suka mempermalukan diri sendiri yang merebak ke image negerinya sendiri. Untuk itulah aku menulis : Indonesian People....Sebuah autokritik dan auto-satir untuk menertawakan diri sendiri sepuas-puasnya.. Ha ha ha

‘INDONESIAN PEOPLE’
Oleh Fakhrunnas MA Jabbar

BAGI saya, Pak Abu adalah seorang orator dan komunikator sejati. Kompetensi di bidang komunikasi itu diwujudkannya secara berkelanjutan selama karirnya di Departemen Penerangan –sebutan departemen sebelum berubah jadi Departemen Komunikasi dan Informasi-Kominfo. Saya merasa beruntung karena dapat menikmati kepiawaian Pak Abu dalam berorasi dengan publik ketika di tahun 1984 silam, kami sama-sama menjalani masa KKN di sebuah desa di Kecamatan Kampar. Dalam pertemuan-pertemuan dengan masyarakat di berbagai tempat baik masjid, mushalla, lapangan maupun pasar, Pak Abu selalu berbicara memukau, mempesona dan lebih lagi kaya humor yang mengundang gelak-tawa. Lebih-lebih lagi aksentuasi dan helaan napasnya yang mantap saat berkomunikasi. ‘diperkaya’ dialek Kampar yang mendayu-dayu bak tiupan angin semilir pegunungan.
Oleh sebab itu, membicarakan sosok Pak Abu, bagi saya, tak bisa lepas dari suasana gelak-tawa yang sulit dilupa. Selama masa KKN itu, banyak cerita-cerita Pak Abu yang selalu saya rekam dan saya ceritakan lagi kepada kolega lain dengan –tentu saja- menyebut ‘asbabun nuzul’ (sumber awal) cerita itu. Secara ilmiah, saya sudah terbebas dari sebutan ‘plagiator’. Secara keagamaan, saya senantiasa menyebut ‘sanad’ (hubungan satu kisah dengan kisah lainnya dari sumber-sumber yang terkait).
Banyak cerita Pak Abu yang memberi ilham kepada saya saat berbual dengan kolega yang lain. Satu hal yang selalu membuat saya tertawa geli ketika orang-orang yang mendengarkan cerita Pak Abu juga bisa menikmati tawa yang berkualitas hamper sama dengan saat saya mendengar cerita lucu itu pertamakali langsung dari ‘pabrik’nya. Namun, di antara banyak cerita yang menjadi ‘head line’ bagi saya adalah soal ‘Indonesian People’. Ini sebenarnya kisah pengalaman Pak Abu saat berkunjung di Negeri Gajah Putih, Thailand.
Suatu hari, Pak Abu bersama nyonya sampailah di Thailand. Saat sang nyonya berbelanja, Pak Abu duduk santai di depan toko sambil merokok. Apa rokoknya waktu itu? Ya, rokok ‘Gudang Garam” merah sebagaimana selalu diiklankan sebagai Rokok Pria Sejati.
“Sewaktu Abu duduk-duduk dengan menikmati rokok khas Indonesia itu, tiba-tiba seseorang datang menghampiri sambil bertanya : Are you Indonesian People?” cerita Pak Abu dengan aksen yang panjang dan berirama.
Pak Abu menjadi heran, kenapa orang Thailand itu bisa tahu asal negaranya. Padahal, dia sendiri tidak mengenal orang itu. Bahkan berbicara saja pun belum dilakukan. Memang sempat terjadi perdebatan. “Orang Thailand itu terus saja menanyakan : are you Indonesian people?. Lalu saya jawab dengan bahasa Inggris –kira-kira dalam bahasa Bangkinangnya : apo obe dek Tuan? (Bagaimana Tuan bisa tahu),” lanjut Pak Abu dengan gaya bertutur yang enak didengar.
Akhirnya Pak Abu menyelesaikan ceritanya. “Usut punya usut, ternyata Rokok Gudang Garam-lah yang membuat orang Thailand itu mengetahui kalau saya dari Indonesia. Ternyata, pada sebatang rokok, orang bisa mengenail identitas suatu bangsa,” tutur Pak Abu yang waktu itu membuat suasana audience ketawa gemuruh. Itulah, kepiawaian Pak Abu dalam memukau setiap orang yang mendengar pidatonya.
Jargon ‘Indonesian People’ memang mengilhami banyak orang untuk melihat sisi kurang sedap tentang tindak-tanduk orang Indonesia di mana saja baik di tanah air sendiri maupun di luar negeri. Saya masih punya banyak pengamatan langsung ditambah penuturan cerita kolega tentang sikap ambil ‘jalan pintas’, melanggar disiplin, melabrak peraturan dan tata tertib dan sifat-sifat minor lainnya yang membuat citra Indonesia menjadi terpuruk.
Siapa saja yang pernah bertandang di Negeri Jiran, Malaysia, boleh sakit hati ketika mendengar celetukan orang-orang sana menyebut TKI kita sebagai ‘Indon’. Sebutan itu kira-kira setara buruknya ketika orang-orang Belanda dulu di masa penjajahan menyebut orang pribumi sebagai ‘Inlander’. Menyakitkan, memang. Tapi, sebutan yang menyinggung perasaan itu ternyata bermula dari adanya oknum-oknum TKI kita yang berperilaku kurang pas dengan aturan normatif yang berlaku. Kasus-kasus kriminal –pencurian, perampokan, pembunuhan dan sejenisnya yang terjadi negeri itu ternyata agak dominan oleh orang-orang Indonesia. Ya, itulah sisi gelap Indonesian People yang kita bicarakan ini.
Sebuah cerita lain dalam perspektif yang agak berbeda dialami oleh serombongan kolega saya. Sewaktu kembali dari perjalanan darat dari Hat Yai, Thailand menuju Penang, di pos Imigresyen biasanya petugas kastam (bea cukai) akan memeriksa barang bawaan. Beberapa di antara mereka ada yang bawa VCD triple X dan sengaja menyembunyikan di kaos kaki atau di pinggang. Tapi salah seorang di antara mereka –patutlah dipanggil ‘Indonesian People’ secara berani meletakkan 5 keping VCD di kantong jaketnya. Tentu dengan mudah petugas kastam menemukannya sewaktu meraba jaket dan velananya. Begitu meraba ada kepingan benda di kantong jaketnya, petugas kastam bertanya spontan: “Ini apa, Encik?”. Sang kolega menjawab datar : Oh, ini VCD, Encik”. Selanjutnya terjadilah dialog begini:
“Hah, VCD apa pula?”
“Biase… VCD seronok-lah…”
“Untuk apa oleh Encik?”
“Ow..saya tontonlah. Biasanya saya tonton sama orang rumah.. Mana tahu, ada gaya yang patut saya tiru…”. Jawaban ini benar-benar membuat petugas kastam tersipu dan tertawa ceria sambil menatap Si ‘Indonesian People’ ini. Hening sejenak karena kedua orang itu saling bertatapan dengan tertawa lepas.
“Jadi, bagaimana Encik? Nak awak ambilkah VCD ini?”. Kali ini kolega saya yang balik bertanya.
Sambil menatap sejenak, petugas kastam menggerakkan tangannya tanda menyilakan. “Sila..bawa sajalah…!” ucapnya sambil tertawa. Tapi saat kolega saya berlalu sambil melambaikan tangan, petugas kastam berucap pelan sambil menggelengkan kepala: “Indonesieeee….”.
Di Singapura, ‘perangai’ sebagian ‘Indonesian People’ terasa kontras dengan gaya hidup tertib negeri jiran yang paling maju di kawasan Asia Tenggara. Tak salah kalau ada yang menyebut Singapura sebagai Negara 1000 denda. Segala sesuatu diatur agar tertib dengan law enforcement yang sangat kuat. Sebutlah, meludah, makan bon bon karet, memetik bunga, melompat pagar atau menyeberang jalan bukan pada tempatnya.
Sewaktu berada di Statsiun MRT (mass rapid transport) –kereta api bawah tanah di Singapura, melihat pagar pengamannya yang gampang disusupi siapa saja, saya sempat bertanya pada seorang security. “Apakah dengan pagar begini, tak ada orang yang berusaha melewatinya dengan mudah?” Tanya saya. Jawaban security itu membuat saya malu, “ada, tapi biasanya itu orang Indonesia.” Memanglah, ‘Indonesian People’ ini, pikir saya dalam hati.
Seorang kolega saya yang pernah tinggal di Amerika menceritakan juga trik-trik dan akal-bulus sebagian orang-orang Indonesia di sana. Kebiasaan yang berlaku di sana, toko-toko penjual peralatan dekorasi, lampu hias atau bunga pajangan membolehkan pembeli mengembalikan barang-barang yang sudah dibela dalam jangka satu bulan bila tak sesuai dengan selera. Kemudian, pemilik toko akan mengembalikan uangnya. Lantas, pada saat Tahun Baru, Natal atau Hari Raya Idul Fitri, ada saja orang yang memakai taktik kurang terpuji. Seminggu sebelum perayaan Hari Besar itu, barang-barang keperluan tadi dibeli dan dipajang selama masa perayaan. Tapi, seminggu menjelang genap sebulan, barang tadi dikembalikan ke toko sekaligus membatalkan pembelian karena tak sesuai dengan selera. Kebanyakan cara-cara begini dilakukan oleh warga negara pendatang dari kawasan Negara Berkembang termasuk Indonesia. Oh, lagi-lagi ‘Indonesian People’.
Syukurlah, waktu berkesempatan umroh di Tanah Suci beberapa tahun lalu, perasaan hati saya agak terhibur juga. Sebab, hamper semua pelayan toko dan kaki lima bila melihat orang Indonesia yang datang, langsung berucap dengan suara keras : Indonesia..Best..Indonesia..Best! (Indonesia paling terbaik). Kadang-kadang, ada juga pedagang di sana yang menambahkan : Soekarno..Best..Hal ini hampir dilakukan oleh semua pedagang di sana. Sewaktu saya berdialog dan menanyai mereka : Why? Mereka jawab bahwa orang Indonesia itu paling banyak duitnya, suka memborong barang-barang belanjaa dan satu lagi : uang kembalian dalam jumlah yang besar sering diikhlaskan saja. Apa bisa? Benar, biasanya sewaktu kita sudah membayar barang belanjaan dan menunggu kembalian uangnya, si pedagang biasanya akan bertanya: ‘Halal?”. Kita yang tidak tahu akan mengangguk dan bersemangat bilang ‘halal’. Dan, sisa kembalian uang itu pun jadi milik si pedagang. Lagi-lagi,’Indonesian People’. ***

MY PICTURE

Tuesday, July 04, 2006

Riau Tersayang, Cinta Siapakah yang Kau Terima Akhirnya

Cinta Tanah Air adalah Sebagian dari Iman. Ajaran Islam ini selalu menjadi panutan diriku. Riau bagiku adalah sejengkal tanah air yang patut dicintai dan disayangi sampai akhir hayat dan sampai kapan pun. Aku tak hendak terjerembab pada percintaan yang sempit. Melainkan semata-mata ketulusan jiwa.

Riau bagiku adalah ranah dan laman tempat berpijak. Setiap helaan napasku membenamkan adat-resam Melayu ke samudera jiwa yang luas. Melayu bagiku adalah ranah hamparan tak bertepi di mana aku setiap waktu -kapan saja- boleh menyauk peradaban, makna, nilai danjuga mimpi-mimpi yang memperkaya bathinku. Semua orang, siapa saja, boleh menimba kekayaan arkhais sepanjang bermuara pada kemuliaan diri, kemuliaan orang ramai dan kemuliaan negeri.

Bila kumulai warkah ini dengan judul : Riau Tersayang, Cinta Siapakah yang Kau Terima Akhirnya -sepotong kalimat yang kupetik dari sebuah puisi yang kutulis belasan tahun silam dengan judul : Riau Tersayang, bukannya sebuah kebetulan. Aku merasakan ranah Riau memang selalu menjadi 'ladang perburuan' -istilah budayawan Riau, UU Hamidy- yang tanpa akhir. Bak seorang dara, Riau selalu menjadi alamat percumbuan siapa saja. Rasa sentimentil dan romantisme diriku tiba-tiba muncul andaikan suatu ketika Riau yang selalu berbagi cinta pada siapa pun akhirnya menerima cinta orang lain.

Di laman blog ini, aku akan mencoba berkisah dan bermadah meluahkan segala rasa.
Mudah-mudahan segala luahan hati ini bermakna bagi siapa saja.

Salam takzim,

Fakhrunnas MA Jabbar